Hm.. kalian semua anak Gunadarma pasti udah ngak asing lagikan sama yang namanya studentsite???
sebenarnya apa sih itu studensite??
kalau menurut saya sendiri, "studentsite itu mirip kayak loker pribadi kita, bedanya loker ini bentuknya gk ada alias berbentuk tulisan dan coding-coding HTML PHP, dll yang berubah menjadi website yang sekarang bernama studensite gunadarma, ya kenapa saya kasih gunadarma, ya karena kita kuliah disana...
pasti setiap aplikasi yang dibuat oleh manusia memiliki dampak negatif dan positif nya...
sekarang itu bakalan gw bahas deh...
keuntungan:
1. karena sifatnya online jadi kita bisa akses kapan aja dan dimana aja (bukan iklan lhoo... :P)
2.lalu karena sifatnya online, jadi kita bisa melanjutkan gerakan "Go Green atau Save Earth" karena kita menggunakan sistem paperless
3. penghematan waktu, kenapa saya bilang seperti ini, karena sistem online yang memungkinkan kita bisa akses situs ini dari mana aja dan kapan aja
ada keutungan pasti ada kerugian donk, bener kan???
Kerugian:
1. bikin males mahasiswa untuk datang kekampus (:P)
2. kemungkinan besar dapat di hack oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab
sekian dulu dah tulisan dari saya..
Baca Selengkapnya...
Wednesday, October 27, 2010
Studentsite
Friday, October 1, 2010
Berita: Anggota MPR salah sebut
Kesalahan pada diri seseorang merupakan hal yang wajar dan lumrah. Karena kesalahan itu sendiri berasal dari Tuhan YME.
tapi apakah kesalahan pada ketua MPR dalam menyebutkan sila-sila yang berada di Pancasila masih bisa dimaaf kan?? Sungguh terlalu... titelnya saja S1 S2 S3 tapi Pancasila koq gak hapal? dlu pelajaran PKN ngayap ke kantin ye PAK?
INILAH.COM, Jakarta - Lagi-lagi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufik Kiemas (TK), salah ucap. TK keliru membacakan sila kelima Pancasila dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
TK keliru membacakan sila kelima Pancasila dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (1/10).
"Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia," ucap TK. Padahal seharusnya sesuai sila kelima Pancasila, berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".
Sebelumnya, saat membacakan sila keempat lidah suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri itu juga keseleo. Taufik mengatakan "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat permusyawararatan perwakilan." Kalimat itu pun segera diralatnya.
Tahun lalu, TK juga pernah dikritik saat salah menyebutkan nama presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pertama kali memimpin sidang Paripurna MPR.
Dalam upacara yang dipimpin oleh Presiden SBY sebagai inspektur upacara ini, selain TK, secara bergantian para pejabat tinggi negara menjadi petugas upacara.
Ketua DPD Irman Gusman menjadi pembaca teks Pancasila, dan Ketua DPR Marzuki Alie membacakan Ikrar Kesetiaan terhadap Pancasila.
Credit:
inilah.com
www.indoforum.org
Baca Selengkapnya...
Berita: Menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah
Berbahagialah kalian yang bercukupan, cobalah kalian membaca berita ini
Menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah
(ane ambil dari Forum sebelah......parah bgt)
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.
Bisakah kita lebih peka dan berempati apabila melihat kejadian seperti ini, atau kita akan tetap sama dengan orang lain yang tidak peduli dengan keadaan rakyat miskin...
KASIH SAYANG ORANG TUA ITU TIDAK ADA BATASANYA... WALAU IA HARUS BERSUSAH PAYAH DEMI KITA.. TETAPI KADANG KITA MELUPAKAN JASA-JASA MEREKA
Credit:
www.indoforum.org
from: Judi (diambil dari forum sebelah)
Baca Selengkapnya...